Menyelipkan sabar dalam amarah
Bukan sabar namanya bila berbatas.
Sering kali kita melihat 'quote' tersebut pada socmed. Memang demikian seharusnya yg dinamakan sabar mestinya tak berbatas. Kesabaran demi kesabaran harus saling menguatkan hingga ego dan amarah perlahan pudar.
Namun 'langit' sore ini (kejadian kemarin .. #latepost) tak secerah kenyataan. Sore ini, diriku dikuasai oleh kesal dan amarah. Hal yg tak biasa terjadi pada diriku. Mungkinkah ini yg disebut "sabar itu ada batasnya" ? Namun aku selalu menguatkan diriku bahwasannya sabar tak berbatas. Meski hasilnya, kemarahanlah yg sanggup merajai soreku ini.
Berawal dari pagi hari.
Aku bekerja di sebuah perusahaan besar yg menjual jasa simpan pinjam. Pagi ini, sebagai petugas Administrasi, aku berkewajiban menjalankan tugasku untuk menyiapkan agenda penandatangan perjanjian dimana konsumen akan meminjam dana. Sebagai jaminan, calon konsumen harus menyerahkan agunan yg kali ini masih menjadi agunan di tempat lain. Istilahnya adalah 'take over'.
Mulanya, akad kredit berjalan lancar. Namun, dikarenakan pola fikir manusia yg berbeda akhirnya muncul kesalahfahaman antara pihak kami dengan pihak konsumen. Sebagai pihak pemberi dana pinjaman, tentunya kami merasa benar thd apa yg sudah kami sampaikan. Hanya saja pihak konsumen tidak bisa menerima apa yg kami sampaikan. Terjadilah adu argumen. Namun, sebagai penjual jasa yg menomor-satukan 'the best service', aku mencoba utk terus sabar dan menahan emosi. Perdebatan itupun berakhir dengan baik. Tanpa sedikitpun menoreh kemarahan dan menyinggung konsumen. Semua yg aku sampaikan dapat diterima dengan hati yg lapang.
Sedikit lega dengan hal ini. Meski otakku hampir mendidih akibat amarah yg tertahan.
Belum selesai dengan itu, siangnya aku ditelpon oleh seorang konsumen yg komplain. Dan dari isi pembicaraannya, sebenarnya dia tdk sedang marah padaku. Dia hanya menyampaikan kekesalannya dengan salah seorang rekanku yg menjanjikan dia untuk dihubungi perihal masalah catatan administrasinya. Namun saat emosinya tak dapat dikendalikan, akhirnya akupun ikut terkena imbas amarahnya. Aku kesal. Tapu tak ada sanggahan yg bisa aku lontarkan padanya. Bagaimanapun dia adalah konsumen yang harus aku hormati.
Sesaat setelah telpon ditutup. Kurasakan degub jantungku perlahan menjadi kencang. Aku menarik nafas dalam-dalam. Hhhhmmmmmmmmh....
Dan...
"Habis sudah rasanya kesabaranku di kantor ini. Kebaikan yg selama ini aku kasih ke kalian itu semua cuma untuk dimanfaatkan saja. Lagi-lagi harus aku yg diuji kesabaran. Siapa yg buat masalah, aku yg kena marah. Rasanya mau aku cabik-cabik mulut orang-orang yang bisanya baik didepan tapi di belakang jahat ini. Cape aku sudah berbuat baik kalau hanya dimanfaatkan..!!!"
Itulah yg terlontar dari luapan amarahku.
Astaghfirullahal'adzim..
Maafkan aku ya Allah yg tak bisa menahan amarah.
Dan hariku belum bisa aku tutup jika masih diliputi kesal dan amarah.
Aku pulang meski ada sedikit ganjalan yg tersisa.
Aku kalah melawan hari ini.
Sering kali kita melihat 'quote' tersebut pada socmed. Memang demikian seharusnya yg dinamakan sabar mestinya tak berbatas. Kesabaran demi kesabaran harus saling menguatkan hingga ego dan amarah perlahan pudar.
Namun 'langit' sore ini (kejadian kemarin .. #latepost) tak secerah kenyataan. Sore ini, diriku dikuasai oleh kesal dan amarah. Hal yg tak biasa terjadi pada diriku. Mungkinkah ini yg disebut "sabar itu ada batasnya" ? Namun aku selalu menguatkan diriku bahwasannya sabar tak berbatas. Meski hasilnya, kemarahanlah yg sanggup merajai soreku ini.
Berawal dari pagi hari.
Aku bekerja di sebuah perusahaan besar yg menjual jasa simpan pinjam. Pagi ini, sebagai petugas Administrasi, aku berkewajiban menjalankan tugasku untuk menyiapkan agenda penandatangan perjanjian dimana konsumen akan meminjam dana. Sebagai jaminan, calon konsumen harus menyerahkan agunan yg kali ini masih menjadi agunan di tempat lain. Istilahnya adalah 'take over'.
Mulanya, akad kredit berjalan lancar. Namun, dikarenakan pola fikir manusia yg berbeda akhirnya muncul kesalahfahaman antara pihak kami dengan pihak konsumen. Sebagai pihak pemberi dana pinjaman, tentunya kami merasa benar thd apa yg sudah kami sampaikan. Hanya saja pihak konsumen tidak bisa menerima apa yg kami sampaikan. Terjadilah adu argumen. Namun, sebagai penjual jasa yg menomor-satukan 'the best service', aku mencoba utk terus sabar dan menahan emosi. Perdebatan itupun berakhir dengan baik. Tanpa sedikitpun menoreh kemarahan dan menyinggung konsumen. Semua yg aku sampaikan dapat diterima dengan hati yg lapang.
Sedikit lega dengan hal ini. Meski otakku hampir mendidih akibat amarah yg tertahan.
Belum selesai dengan itu, siangnya aku ditelpon oleh seorang konsumen yg komplain. Dan dari isi pembicaraannya, sebenarnya dia tdk sedang marah padaku. Dia hanya menyampaikan kekesalannya dengan salah seorang rekanku yg menjanjikan dia untuk dihubungi perihal masalah catatan administrasinya. Namun saat emosinya tak dapat dikendalikan, akhirnya akupun ikut terkena imbas amarahnya. Aku kesal. Tapu tak ada sanggahan yg bisa aku lontarkan padanya. Bagaimanapun dia adalah konsumen yang harus aku hormati.
Sesaat setelah telpon ditutup. Kurasakan degub jantungku perlahan menjadi kencang. Aku menarik nafas dalam-dalam. Hhhhmmmmmmmmh....
Dan...
"Habis sudah rasanya kesabaranku di kantor ini. Kebaikan yg selama ini aku kasih ke kalian itu semua cuma untuk dimanfaatkan saja. Lagi-lagi harus aku yg diuji kesabaran. Siapa yg buat masalah, aku yg kena marah. Rasanya mau aku cabik-cabik mulut orang-orang yang bisanya baik didepan tapi di belakang jahat ini. Cape aku sudah berbuat baik kalau hanya dimanfaatkan..!!!"
Itulah yg terlontar dari luapan amarahku.
Astaghfirullahal'adzim..
Maafkan aku ya Allah yg tak bisa menahan amarah.
Dan hariku belum bisa aku tutup jika masih diliputi kesal dan amarah.
Aku pulang meski ada sedikit ganjalan yg tersisa.
Aku kalah melawan hari ini.
Komentar
Posting Komentar